Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Laki-laki muda harus bekerja bertahun-tahun hanya untuk memenuhi tuntutan belis. Perempuan kadang dipandang sebagai “nilai tukar” keluarga. Orang tua menanti hasil besar dari perkawinan anak. Keluarga besar menjadikan pernikahan sebagai arena status sosial. Akibatnya, cinta dan kesiapan membangun rumah tangga kalah oleh hitungan nominal.
Ketika anak diposisikan sebagai sumber pemasukan dalam perkawinan, maka budaya kehilangan ruhnya. Tradisi yang semestinya memuliakan manusia justru dapat menekan generasi muda.
Belis sebagai Nilai, Bukan Komersialisasi
Perlu ditegaskan: kritik ini bukan penolakan terhadap budaya belis. Budaya lokal perlu dihormati. Belis dalam banyak komunitas di NTT mengandung nilai luhur: penghargaan terhadap perempuan, penguatan ikatan kekerabatan, dan tanggung jawab sosial. Yang perlu dikritik adalah komersialisasi tradisi.
Ketika nilai budaya diubah menjadi perlombaan harga, maka keluarga miskin makin tertekan, pemuda menunda menikah, konflik antar-keluarga meningkat, dan perempuan berisiko dipersepsikan sebagai objek transaksi. Dalam jangka panjang, ini merusak tujuan perkawinan itu sendiri.
Budaya harus terus hidup, tetapi budaya juga harus direfleksikan. Tradisi yang sehat ialah tradisi yang menjaga martabat manusia, bukan menindasnya.
Orang Tua Perlu Menyiapkan Hari Tua Sendiri
Akar lain dari menjadikan anak sebagai investasi adalah absennya perencanaan hidup orang tua. Banyak pasangan membesarkan anak tanpa kesiapan finansial jangka panjang, lalu berharap anak menjadi jaminan masa tua. Ini problem struktural sekaligus kultural.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

