Di negara dengan sistem pensiun kuat, beban anak terhadap orang tua relatif lebih ringan. Tetapi di banyak daerah Indonesia, keluarga menjadi satu-satunya jaring pengaman sosial. Karena itu, perubahan perlu dimulai dari kesadaran baru: orang tua bertanggung jawab menyiapkan masa tua sedapat mungkin, bukan menyerahkan seluruh risiko kepada anak.

Membesarkan anak adalah tanggung jawab moral orang tua. Itu bukan utang yang bisa ditagih kembali. Jika anak kemudian menolong, itu adalah buah kasih, bukan cicilan kewajiban.

Menuju Relasi Keluarga yang Sehat

Ada beberapa langkah yang perlu dibangun.

Iklan

Pertama, ubah narasi pengasuhan. Jangan membesarkan anak dengan kalimat, “Nanti kau harus balas semua ini.” Gantilah dengan, “Kami mendidikmu agar engkau menjadi manusia yang utuh.”

Kedua, dorong literasi keuangan keluarga. Orang tua perlu merencanakan pendidikan, kesehatan, dan hari tua sejak dini.

Ketiga, reformulasi budaya belis secara kontekstual. Tokoh adat, gereja, pemerintah, dan masyarakat perlu mendorong praktik yang wajar, manusiawi, dan tidak memberatkan generasi muda.

Keempat, hormati otonomi anak dewasa. Anak boleh memilih profesi, pasangan, tempat tinggal, dan jalan hidupnya tanpa dibebani rasa bersalah permanen.