Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Psikolog keluarga menyebut bahwa anak yang dibesarkan dengan tekanan “harus membalas jasa” rentan mengalami guilt-based identity—identitas yang dibangun di atas rasa bersalah. Mereka tumbuh bukan karena panggilan hidupnya, tetapi karena takut mengecewakan orang tua. Akibatnya, banyak anak dewasa mengalami kecemasan finansial, burnout, sulit mengambil keputusan pribadi, bahkan merasa berdosa ketika ingin hidup mandiri.
Fenomena ini tampak nyata pada generasi muda hari ini. Tidak sedikit yang bekerja di kota besar, namun penghasilannya habis untuk menopang keluarga besar, membiayai saudara, melunasi utang orang tua, atau memenuhi tuntutan sosial di kampung. Tanggung jawab keluarga tentu mulia. Tetapi ketika semua beban dipindahkan kepada satu anak hanya karena ia “berhasil sekolah,” maka kita sedang menyamarkan ketidakadilan dengan nama bakti.
Pendidikan Bukan Mesin Uang
Salah satu kekeliruan terbesar ialah ketika pendidikan anak dipandang semata-mata sebagai jalan keluar ekonomi keluarga. Anak disekolahkan tinggi dengan harapan kelak menjadi ATM berjalan. Gelar akademik diukur bukan dari kapasitas intelektual, tetapi dari berapa besar gaji yang bisa dibawa pulang.
Paulo Freire mengingatkan bahwa pendidikan seharusnya membebaskan manusia, bukan menjadikannya alat kepentingan pihak lain. Pendidikan bertujuan membentuk kesadaran kritis, kemandirian, dan martabat pribadi. Ketika anak dididik hanya untuk menjadi penanggung beban keluarga, pendidikan kehilangan fungsi emansipatorisnya.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

