Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Tentu tidak salah jika anak membantu orang tua. Itu adalah nilai luhur. Tetapi bantuan yang lahir dari cinta berbeda dengan kewajiban yang dipaksakan melalui rasa bersalah. Yang pertama membangun relasi sehat; yang kedua melahirkan luka batin.
Konteks NTT: Anak, Beban Keluarga, dan Tradisi Sosial
Di Nusa Tenggara Timur, persoalan ini memiliki dimensi yang lebih kompleks. Banyak keluarga hidup dalam tekanan ekonomi struktural: lapangan kerja terbatas, biaya pendidikan tinggi, urbanisasi meningkat, dan ketergantungan pada remitansi dari anak yang merantau cukup besar. Dalam kondisi seperti ini, anak sering dianggap aset keluarga yang kelak “menyelamatkan rumah tangga.”
Fenomena ini tampak pada banyak anak muda NTT yang bekerja di Kupang, Bali, Kalimantan, Jakarta, bahkan luar negeri. Ketika mereka mulai memperoleh pendapatan, ekspektasi keluarga datang berlapis-lapis: membangun rumah, membiayai adik, membantu paman, menutup utang keluarga, menyumbang acara adat, dan memenuhi berbagai kewajiban sosial lainnya.
Yang lebih rumit lagi adalah ketika tekanan itu bertemu dengan tradisi perkawinan yang mahal, terutama praktik belis atau mahar yang dalam beberapa komunitas dijalankan dengan nominal tinggi. Pada akar budayanya, belis memiliki makna penghormatan, pengikat relasi antar-keluarga, dan simbol keseriusan. Namun dalam praktik modern, tidak sedikit kasus di mana belis bergeser menjadi transaksi prestise.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

