Ende, RakyatNTT.ID Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, resmi meluncurkan program NTT Mart by One School One Product (OSOP) di SMK Negeri 2 Ende, Minggu (19/4/2026). Program ini menjadi bagian dari perubahan arah pendidikan di NTT, dari sekadar mencetak lulusan menjadi menghasilkan produk sekaligus menggerakkan ekonomi daerah.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Melki juga meluncurkan Dapur Flobamorata di SMKN 1 Ende yang lokasinya berdekatan. Ia menekankan pentingnya hilirisasi produk sekolah agar tidak berhenti pada bahan mentah, tetapi berlanjut hingga proses produksi bernilai tambah, mulai dari tanam, panen, olah, kemas, hingga pemasaran.

Tiga Pilar Pendidikan NTT

Dalam arahannya, Melki menegaskan tiga pilar utama pendidikan di NTT, yakni akademik, karakter, dan kewirausahaan.

Iklan

Ia menekankan bahwa aspek akademik tetap menjadi fondasi utama agar siswa mampu bersaing di perguruan tinggi, sekolah kedinasan, hingga tingkat internasional.

“Akademik harus bagus. Kita siapkan guru, sarana, dan buku agar anak-anak bisa bersaing,” ujarnya.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa karakter memiliki peran yang lebih menentukan dalam kesuksesan seseorang.

“Banyak orang pintar tapi tidak berhasil karena karakternya buruk. Sebaliknya, karakter yang baik bisa membawa seseorang berhasil,” tegasnya.

Melki juga menyoroti pentingnya kegiatan seperti Pramuka sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa.

Sekolah jadi Motor Ekonomi

Pilar ketiga, yakni kewirausahaan, menjadi fokus utama melalui program NTT Mart dan Dapur Flobamorata. Menurut Melki, langkah ini penting untuk menjawab persoalan defisit perdagangan NTT yang mencapai Rp51 triliun.

“Artinya kita lebih banyak membeli dari luar daripada memproduksi sendiri. Ini yang harus kita ubah,” katanya.

Pemprov NTT membangun ekosistem ekonomi berbasis One Village One Product (OVOP), One Community One Product (OCOP), dan One School One Product (OSOP). Produk dari desa, komunitas, dan sekolah akan dipasarkan melalui NTT Mart, sementara Dapur Flobamorata menjadi pusat pengolahan kuliner lokal.

“Semua yang kita produksi harus kita beli sendiri. Kita harus jadi pelaku, bukan penonton,” ujarnya.

Sebagai upaya menciptakan pasar, pemerintah merancang kebijakan belanja ASN minimal Rp100 ribu per bulan untuk produk lokal. Namun, kebijakan tersebut masih menunggu kesiapan produksi.

“Kalau semua ASN beli, perputaran uang bisa Rp150 sampai Rp200 miliar per bulan,” jelasnya.

Dorong SMK Jadi Pusat Produksi

Melki menegaskan bahwa sekolah, khususnya SMK, harus menjadi pusat produksi nyata. Ia mendorong pembelajaran berbasis praktik langsung sesuai potensi lokal seperti pertanian, peternakan, dan pariwisata.

“Jangan ajar bertani di kelas, harus di kebun. Jangan ajar beternak di papan tulis, harus di kandang,” tegasnya.

Ia juga mendorong pemanfaatan lahan sekolah untuk produksi pangan guna mendukung kebutuhan dapur sekolah dan program makan bergizi.

“Tanam, pelihara, olah, lalu jual. Uang harus berputar di sekolah,” katanya.

Selain itu, sekolah didorong mengembangkan unit usaha seperti peternakan skala besar hingga penginapan berbasis pendidikan, terutama bagi SMK dengan jurusan pariwisata.

Dukungan Daerah dan Pendidikan Vokasi

Wakil Bupati Ende, drg. Dominikus Minggu Mere, menyebut program ini sebagai langkah strategis dalam memperkuat kemandirian ekonomi berbasis sekolah dan masyarakat.

“NTT Mart menjadi etalase produk unggulan daerah, sementara Dapur Flobamorata menjadi laboratorium kewirausahaan siswa,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo, menyebut Ende sebagai daerah kelima yang menjalankan program ini setelah Kota Kupang, Belu, TTU, dan TTS.

Ia menegaskan pentingnya pendidikan vokasi yang terhubung langsung dengan dunia kerja dan pasar.

“Kita targetkan minimal 50 persen lulusan bisa langsung bekerja. Itu bisa membantu satu keluarga keluar dari kemiskinan,” katanya.

Arah Baru Pembangunan NTT

Peluncuran NTT Mart dan Dapur Flobamorata menegaskan strategi Pemprov NTT dalam menggeser pola pembangunan dari konsumsi ke produksi, dengan sekolah sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Program ini diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menciptakan wirausaha muda, membuka lapangan kerja, serta memastikan perputaran ekonomi tetap berada di dalam daerah. (*/rnc)