Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Penelitian University of Florida dan University College London (2025) mencatat kebiasaan membaca harian pada siswa dan orang dewasa di AS menurun lebih dari 40 persen dalam dua dekade terakhir.
Riset Stanford University juga menemukan kelancaran membaca lisan siswa kelas dua dan tiga tertinggal hampir 30 persen dari level yang diharapkan, terutama di wilayah berpenghasilan rendah.
Kelancaran membaca merupakan fondasi bagi pemahaman matematika, sains, dan ilmu sosial. Tanpa dasar ini, kesenjangan akademik semakin melebar.
Doomscrolling dan Krisis Fokus
Fenomena doomscrolling—kebiasaan menggulir berita negatif secara terus-menerus—turut menjadi sorotan. Paparan informasi yang terfragmentasi seperti video pendek, potongan berita singkat, dan feed media sosial membuat otak jarang dilatih untuk fokus jangka panjang.
Berbagai studi menunjukkan konsumsi informasi cepat dan tanpa tujuan dapat mengganggu memori kerja serta mengurangi disiplin mental yang biasanya terbentuk melalui membaca mendalam.
Banyak pendidik melaporkan siswa saat ini kesulitan mempertahankan fokus, kurang sabar membaca teks panjang, dan kesulitan memahami argumen kompleks—keterampilan yang sebelumnya menjadi pilar keunggulan akademik.
Bukan Menyalahkan Generasi, tapi Reformasi Sistem
Para pakar menegaskan, fenomena ini bukan alasan untuk menyalahkan Generasi Z, melainkan sinyal perlunya adaptasi sistem pendidikan.





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

