Kupang, RakyatNTT.ID Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Bali Nusra resmi digelar di Auditorium Grha Cendana, Kupang, Jumat (13/2/2026).

Momentum ini menjadi tonggak penting bagi pemerataan layanan kesehatan, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan kawasan timur Indonesia.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Prof. Ir. Togar Mangihut Simatupang, M.Tech., Ph.D., IPU, menyebut peluncuran ini merupakan wujud nyata komitmen Presiden RI Prabowo Subianto dalam mengatasi ketimpangan distribusi dokter spesialis dan subspesialis di Indonesia.

Iklan

“Dalam Sidang Umum MPR RI 15 Agustus 2025, Presiden menyampaikan keprihatinannya terhadap kurangnya distribusi dokter spesialis. Beliau menargetkan 148 program studi spesialis dan subspesialis di seluruh Indonesia,” jelas Togar.

Ia mengungkapkan, Kemdiktisaintek bahkan telah membuka 160 program pendidikan dokter spesialis dan subspesialis yang diluncurkan serentak di Indonesia, termasuk di Universitas Nusa Cendana (Undana), Universitas Mataram (Unram), dan Universitas Udayana (Unud).

Undana Dipilih karena Alasan Filosofis dan Historis

Menurut Togar, dipilihnya Undana bukan tanpa alasan. Selain kesiapan akademik, ada pertimbangan filosofis bahwa Presiden menaruh perhatian besar terhadap NTT sebagai daerah dengan potensi sumber daya manusia (SDM) unggul.

“NTT melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Ben Mboi, Frans Seda, dan Sony Keraf yang memberi kontribusi besar bagi republik. Potensi ini harus terus dijaga dan dikembangkan,” ujarnya.

Ia berharap kehadiran Prodi PPDS dan Subspesialis ini mampu menjawab persoalan klasik di NTT, seperti tingginya angka kematian ibu dan bayi, serta keterbatasan layanan dokter spesialis di daerah terpencil.

“Kita ingin ada harapan baru, agar masyarakat di wilayah terpencil bisa terlayani dengan baik,” tegasnya.

Gubernur NTT Wajibkan Lulusan Mengabdi di Daerah

Gubernur NTT, Melki Laka Lena, yang hadir langsung dalam kegiatan peluncuran ini, menyatakan dukungan penuh terhadap Prodi PPDS Undana. Ia menegaskan, mahasiswa asal NTT yang mengikuti program ini wajib mengabdi di daerah setelah lulus.

“Anak-anak NTT yang masuk program ini wajib hukumnya sekolah dan setelah selesai harus tetap di NTT. Jangan sekolah di sini lalu bekerja di luar daerah,” tegas Melki.

Pemprov NTT bersama para bupati dan wali kota akan melakukan seleksi ketat serta menyiapkan rumah sakit mitra. Selain RSUP Ben Mboi, RSUD WZ Johanes juga akan menjadi rumah sakit pendidikan. Rumah sakit di kabupaten/kota pun diminta bersiap menjadi wahana praktik.

Ia juga mendorong pemerintah daerah menyiapkan skema beasiswa, selain dukungan dari Kemdiktisaintek dan Kementerian Kesehatan.

“Kalau bisa, beasiswa daerah juga dialokasikan untuk pembiayaan dokter spesialis yang ingin bersekolah di NTT,” tambahnya.

Undana Jaga UKT Tetap Terjangkau

Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, ST., M.Eng, mengakui bahwa Biaya Kuliah Tunggal (BKT) untuk pendidikan dokter, termasuk spesialis, memang tinggi. Namun pihaknya berkomitmen menjaga Uang Kuliah Tunggal (UKT) tetap terjangkau.

“Misalnya untuk menghasilkan satu sarjana per semester dibutuhkan sekitar Rp10 juta, sementara UKT di Undana untuk Pendidikan Dokter di angka Rp8 jutaan. Artinya, masih di kisaran 80 persen dari BKT,” jelas Jefri.

Ia berharap dalam empat tahun ke depan tidak akan ada kenaikan UKT. Undana juga terus meningkatkan pendapatan non-akademik serta memperluas akses beasiswa agar mahasiswa tidak terbebani.

“Kami berharap dukungan gubernur dan para bupati yang selama ini memberi beasiswa dapat mengalokasikan anggaran juga untuk dokter spesialis,” ujarnya.

Sinergi Undana, Unram, dan Unud

Unduk diketahui, dua prodi spesialis yang dibuka di Undana, yakni Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif dan Program Studi Obstetri dan Ginekologi (Kebidanan dan Kandungan).

Peluncuran Prodi PPDS ini juga menjadi awal sinergi antara Undana, Universitas Mataram, dan Universitas Udayana dalam memperkuat layanan kesehatan di Bali Nusra.

Kolaborasi ini diharapkan mampu menjawab persoalan mendasar seperti kematian ibu saat melahirkan, kematian bayi, serta peningkatan kualitas layanan kesehatan di daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi.

Dengan hadirnya Prodi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis di Undana, NTT kini memiliki peluang besar untuk mencetak dokter-dokter ahli yang lahir, dididik, dan mengabdi bagi masyarakatnya sendiri. (rnc)