Sebelum dikenal sebagai politisi matang, ia hanya seorang mahasiswa idealis.
Bersama abang Fidel, abang Yunus banyak dibimbing oleh abang Eman Kolfidus yang saat itu menjadi Ketua DPC GMNI Kupang.

Abang Yunus tinggal di sebuah kos-kosan reot di Oepura. Saban hari ia berdiskusi hingga larut malam bersama kawan-kawan seperjuangan GMNI tentang rakyat, demokrasi, dan keadilan sosial.

Dari gubuk itu lahir banyak gagasan dan keyakinan bahwa perjuangan tak berhenti di ruang kuliah.

Iklan

Kini, meski tak lagi tinggal di sana, semangat itu tetap menyala di dadanya. Dari seorang aktivis jalanan menjadi pemimpin partai besar. Kisahnya menjadi pengingat bahwa mimpi yang disemai dengan ketulusan akan menemukan jalannya sendiri.

Saya sendiri kini menapaki jalan politik yang berbeda—berjuang bersama NasDem setelah dulu sama-sama tumbuh di PDI Perjuangan. Saya pernah ikut bertarung sebagai caleg DPRD NTT, meski hasilnya belum sampai ke kursi legislatif. Tapi itu tak pernah memutus tali persaudaraan kami.

Kami mungkin berbeda warna bendera, tapi darah perjuangan kami sama.
Kami tidak sedarah, tapi kami bersaudara. Merdeka! (*)