Sesampainya di sana, kabar itu resmi—Abang Yunus Takandewa terpilih menjadi Ketua DPD PDI Perjuangan NTT.

Dari Dinding Bebak ke Panggung Politik

Mendengar namanya disebut, ingatan saya melayang ke masa belasan tahun lalu. Saya mengenal Abang Yunus jauh sebelum dunia politik menegaskan identitasnya. Waktu itu, saya tinggal di kos-kosan yang sama dengan adik kandungnya, Yanto Pandabanjal, di Oesapa.

Kosan kami sederhana: berdinding bebak, dilapisi koran bekas, tapi penuh tawa dan mimpi. Di sanalah kamis sering berdiskusi panjang malam-malam—tentang masa depan, rakyat, dan cita-cita.

Iklan

Saat itu, abang Yunus menjabat sebagai Ketua KPMT di NTT (saya sudah lupa kepanjangannya). Namun lembaga itu kemudian tutup karena kebijakan nasional yang mematikan bantuan donor. Sejak itu, Abang Yunus menganggur, tapi semangatnya tidak pernah padam.

Tahun 2006, saya bergabung di Tabloid Fortuna, yang dipimpin Abang Fidel Nogor—sesama alumni GMNI Kupang. Beberapa tahun kemudian, Abang Yunus ikut bergabung dan diangkat menjadi pemred, menggantikan posisi yang sebenarnya disiapkan untuk saya. Saya pun tak keberatan.

Ketika saya mendirikan Tabloid Savana dan Savanaparadise.com, Abang Yunus rutin datang ke sekretariat—yang juga sekaligus kos saya di Gang Damai, Jalan Palapa. Ia saya dapuk menjadi redaktur eksekutif. Malam-malam kami penuh kopi dan diskusi bersama Lorens Mila Dadi, yang kini menjadi pengurus DPW PSI NTT.