Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Saya masih ingat, Abang Yunus datang ke rumah sakit Wirasakti waktu saya diopname. Ia membantu biaya pengobatan, padahal saya tahu persis, saat itu ia sendiri sedang tak punya uang.
Ada kisah yang tak terlupakan: ia pernah kehabisan uang dan tak bisa membayar kontrakan. Abang Fidel kemudian berinisiatif mencetak koran edisi khusus Konferda PDI Perjuangan, dan seluruh hasil penjualannya digunakan untuk menolong Abang Yunus.
Perjalanan Panjang Sang Kader
Dari kisah itu saya belajar satu hal: roh GMNI adalah saling menopang. Konflik boleh datang dan pergi, tapi persaudaraan tetap hidup.
Abang Yunus adalah buktinya. Anak miskin dari lereng pegunungan itu kini menapaki panggung politik, bukan karena keberuntungan, tapi karena konsistensi.
Ia pernah gagal dua kali saat maju sebagai caleg DPRD NTT. Tapi ia tidak menyerah. Baru pada percobaan ketiga, ia berhasil duduk sebagai anggota DPRD NTT, lalu menjadi Wakil Ketua DPRD NTT di periode berikutnya.
Saya masih ingat masa kampanye pertamanya di Sumba Timur, tahun 2007 silam. Kami berkeliling dari rumah ke rumah bermodalkan semangat. Kami menggunakan motor Mega Pro, berkeliling memasang stiker hingga larut malam. Saat kehausan, saya bilang, “Abang, kios ini sonde jual air.”
“Yang ada apa?” tanya Abang Yunus.
“Alciko, Bang,” jawab saya.
“Hantam sudah, adik!” katanya. Malam itu kami meneguk Alciko, minuman rakyat, sambil tertawa di bawah langit gelap. Tak lama kemudian, ban motor bocor, dan seperti biasa, sayalah yang harus dorong, karena paling junior.
Dari Gubuk ke Gedung Rakyat
Kini, Abang Yunus berdiri di puncak baru. Dari sekretaris DPD, ia naik menjadi Ketua DPD PDI Perjuangan NTT. Sebuah tanggung jawab besar yang menegaskan perjalanan panjang seorang kader akar rumput.





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

