Kupang, RakyatNTT.ID – Untuk Kampung Maumolo yang lebih baik, tidaklah muluk-muluk bila Yayasan Felix Maria Go (YFMG) melakukan pendampingan di kampung tersebut. Misi dan mimpi besar YFMG, membawa kemakmuran serta kesejahteraan bagi masyarakat Maumolo. Mereka harus tumbuh mandiri dan hidup terhormat (Tumhiho). Sebuah harapan dari Pimpinan Yayasan Felix Maria Go, Fransiscus Go, disampaikan kepada RakyatNTT.ID, Rabu (5/11/2025).

Demi mewujudkan harapannya menjadikan kampung atau Kuan Maumolo sebagai desa percontohan Tumhiho, maka beberapa catatan penting dibeberkan Fransiscus Go.

Pertama Kesadaran Diri: Tuhan Sudah Memberi Modal Dasar
Setiap warga sudah memiliki tiga modal utama: akal, tenaga, dan tanah.
• Jangan menunggu, tapi gunakan modal itu untuk bergerak.
• Kemandirian lahir ketika seseorang menyadari bahwa Tuhan telah memperlengkapi kita sepenuhnya untuk hidup layak dan bermartabat.

Iklan

Kedua Kemandirian Ekonomi: Dari Bantuan ke Gerakan
Program YFMG bukan untuk membuat warga bergantung, tetapi menjadi pemicu gerakan kemandirian.
• Bantuan hanyalah bibit, bukan buah — buahnya harus tumbuh dari usaha warga sendiri.
• Dorong warga untuk mengembangkan usaha kecil berbasis potensi lokal: pertanian, peternakan, kerajinan, atau olahan pangan.

Ketiga Gotong Royong Modern: Kerja Sama Tanpa Ketergantungan
Semangat gotong royong harus diperkuat, bukan dalam bentuk “saling menunggu”, tetapi saling menguatkan.
• TUMHIHO berarti bergerak bersama tanpa kehilangan kemandirian.
• Bangun kelompok kerja desa yang saling berbagi ilmu, alat, dan pengalaman.

Keempat Pendidikan dan Pelatihan: Ilmu sebagai Akar Kemandirian
Ilmu dan keterampilan adalah pupuk bagi kemandirian.
• YFMG bisa memfasilitasi pelatihan wirausaha, pengelolaan keuangan, dan pengolahan hasil lokal.
• Ajak generasi muda untuk belajar, bereksperimen, dan memimpin perubahan di desanya.

Kelima Integritas dan Kehormatan: Hidup Terhormat, Bukan Hidup dari Bantuan
“Hidup terhormat” berarti hidup dengan kerja yang jujur dan hasil sendiri, bukan mengandalkan belas kasihan.
• Kehormatan sejati bukan karena kaya, tapi karena berdiri di atas keringat sendiri.
• Tanamkan nilai malu untuk menipu, dan bangga untuk bekerja.

Keenam Pemanfaatan Alam Secara Bijak
Alam TTU keras tapi subur jika dikelola dengan ilmu dan kasih.
• TUMHIHO berarti juga menjadi sahabat alam — menanam kembali, mengelola air, dan menjaga lingkungan agar lestari.

Ketujuh Kepemimpinan Lokal yang Melayani
Kepala desa, tokoh adat, dan pemuka agama perlu menjadi teladan tumhiho: jujur, pekerja keras, dan mengutamakan kepentingan bersama.
• Kepemimpinan yang melayani akan menghidupkan semangat warga untuk ikut berjuang.

Kedelapan Harapan Akhir: Kuan Maumolo sebagai Desa Percontohan Tumhiho
Jadikan Kuan Maumolo laboratorium hidup bagi semangat TUMHIHO: Desa yang warganya bekerja keras, saling menolong, dan tidak menyerah pada keterbatasan.
• Bila warga Kuan Maumolo berhasil mandiri, maka TTU dan seluruh NTT akan ikut meneladaninya.

Terkait harapan yang disampaikan Fransiscus Go tersebut, tokoh masyarakat Maumolo menyatakan apresiasinya dan siap mewujudkannya. Adalah Amandus Taena, kepala SDN Maumolo, Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara. Dihubungi terpisah, Amandus mengatakan, pihaknya sangat berterima kasih kepada Yayasan Felix Maria Go di bawah pimpinan Fransiscus Go, yang telah mencurahkan perhatiannya membantu masyarakat Maumolo.

“Ada banyak program Yayasan Felix Maria Go yang telah dibuat di Kampung Maumolo. Mulai dari sumur bor, pelatihan pembuatan kue kepada ibu-ibu, pemberian bibit sayur, buku-buku perpusatakaan, pembenahan sarana olahraga, bak penampungan air, pengobatan gratis, cara pembuatan tanaman sayuran di media hidroponik dan masih banyak lagi. Luar biasa,” imbuh Amandus.

Dikatakanya, jika program-program pemberdayaan masyarakat itu dijalankan dengan baik, maka harapan Fransiscus Go agar Kampung Maumolo tumbuh mandiri dan hidup terhormat, bisa diwujudkan. “Sumur bor sudah dikerjakan, dan air sudah mengalir. Ini kebutuhan paling mendasar untuk mengerjakan yang lainnya. Maumolo dulunya sebagai sentra produksi sayur, tapi karena mengalami kekeringan, kami kesulitan. Sekarang tidak alasan untuk mengembalikan mimpi itu. Pak Frans Go bersama yayasannya telah membangun sumur bor, mari tumbuh secara mandiri sehingga hidup kita terhormat. Tidak lagi bergantung pada bantuan,” kata Amandus.

Untuk sumur bor yang dibangun di sekitaran lingkungan SDN Maumolo dan SMP Satap Negeri Maumolo, Amandus Taena meminta agar reservoar atau bak penampung akan dibuat, sebaiknya berada dalam lingkungan kedua sekolah tersebut. Pasalnya, posisi kedua sekolah itu berada di-ketinggian sehingga bisa mengalirikan air ke semua bagian, termasuk masyarakat di sekitar sekolah. “Harapan kami begitu, supaya pembagian air bisa semua menikmati,” pinta Amandus, tokoh masyarakat Maumolo.

Sementara Marselinus Amsikan, kepala SMP Satap Negeri Maumolo menambahkan, bantuan yang di berikan YFMG di bawah pimpinan Fransiscus Go, sangat membantu masyarakat Maumolo. Dikatakannya, harapan agar warga Maumolo bisa tumbuh mandiri dan hidup terhormat atau Tumhiho, dapat terwujud dengan dukungan YFMG.

“Program pemberdayaan yang dilakukan YFMG di bawah pimpinan Bapak Fransiscus Go, semoga bisa terwujud. Yayasan Felix Maria Go sangat membantu kami, khususnya pelatihan-pelatihan langsung yang diberikan kepada siswa SMP Satap Negeri Maumolo. Seperti penanaman sayuran Hidroponik dan juga pembuatan tootle bag, merupakan suatu ilmu baru yang anak-anak kami peroleh dari team kreatif di bidangnya. Dan, anak-anak sangat senang mengikuti rangkaian kegiatan tersebut,” ungkap Marselinus.

“Harapan kami, semoga ilmu yang sudah diperoleh dapat dimanfaatkan dengan baik. Kami juga mendapatkan sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air bersih d lingkungan sekolah. Harapan kami, air bersih ini sedapat mungkin mengatasi krisis air bersih yang selama ini kami alami. Semoga YFMG selalu konsisten dengan berbagai program bantuan kepada masyarakat Maumolo. Terima kasih kami untuk Yayasan Felix Maria Go,” tandas Marselinus. (*)