Dalam menjawab pertanyaan tersebut, sebagian orang tua, sebagai peletak dasar pembentukan karakter anak, terjebak dalam sikap delusif. Akibatnya, apa yang dilakukan oleh anaknya selalu diyakini oleh orang tua sebagai sesuatu yang harus dibela. Mereka, bahkan, berpendapat bahwa bila guru memberi teguran yang tegas, guru itu dianggap tak wajar. Gejala ini muncul karena kebiasaan dan kebebasan yang telah menyatu dan menyata dalam sistem keluarga. Lantas, bagaimana tindakan sang guru agar anak tetap disiplin dalam belajar?

Seorang guru pasti sadar bahwa menjadi guru itu, menurut Prof. Anita Lie, adalah panggilan hatinya untuk mengabdi. Setiap guru berhadapan dengan beragam pribadi dengan karakter yang beragam pula. Kasus yang viral di jagad maya akhir-akhir ini membuat guru berefleksi untuk mencari metode, strategi dan pendekatan yang tepat untuk mendisiplinkan anak didik sedemikian rupa sehingga mereka bisa belajar secara total tanpa masalah. Beberapa di antaranya dikemukakan berikut ini.

Pertama, perlunya dialog yang saling memberdayakan. Tujuan dialog ini adalah untuk mengenal karakter dan pribadi anak didik, mengidentifikasi motif di balik tindakannya dan mencintai anak itu agar ia bertumbuh secara baik dengan membangun komunikasi yang efektif dengan dia. Fokusnya pada pemecahan masalah dan guru dapat melayani secara tulus dengan memberikan motivasi.

Iklan