Persoalannya adalah bahwa anak-anak sekolah era sekarang, secara umum, tidak selalu memiliki tujuan hidup seperti itu. Akibatnya, mereka terjebak dalam tindakan negatif yang, dalam banyak hal, merugikan dirinya dan, kemudian, membuatnya gagal.

Untuk itu, para pendidik, menurut penulis, perlu menerapkan disiplin secara tegas, tetapi tanpa kekerasan, di sekolah. Tujuannya mulia. Dengan adanya disiplin itu, misalnya, dalam belajar, anak-anak didik dapat memahami dan menerapkan ilmu yang dipelajari dalam konteks yang lebih luas.

Lebih daripada itu, mereka juga dapat memiliki karakter yang dibanggakan dalam konteks kehidupan bersama. Sayangnya, penerapan disiplin tersebut, terkadang dibaca secara negatif oleh para murid. Mereka membaca “pelarangan” sebagai sesuatu yang negatif, padahal tujuannya positif.

Iklan

Ini yang disebut Mark Manson sebagai kegagalan untuk memaknai negativitas sebagai positivitas. Kegagalan seperti itu relatif serius karena akan membuat para murid tidak mampu bersaing dalam Era Revolusi Industri 4.0 yang oleh F. Budi Hardiman sebut sebagai era komunikasi digital.

Era Revolusi Industri 4.0 menghendaki para murid memiliki passion yang pasti. Passion itu mengharuskan mereka untuk memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, berpikir kritis, berpikir kreatif, berkolaborasi, dan berkarakter baik, serta sanggup memecahkan masalah sendiri.