Jakarta, RakyatNTT.ID – Selama beberapa dekade, pendidikan tinggi dan kerja keras diyakini sebagai jalan menuju kemakmuran di Asia. Namun, realitas kini berubah. Generasi muda di berbagai negara menghadapi krisis pekerjaan meski memiliki ijazah dari universitas bergengsi.

Korea Selatan: Geunyang Swim dan Honjok

Di Korea Selatan, persaingan ketat dunia kerja melahirkan istilah geunyang swim atau “baru saja beristirahat,” menggambarkan anak muda yang tidak belajar maupun bekerja. Data Statistik Korea menunjukkan, lebih dari 420.000 warga berusia dua puluhan memilih status ini pada 2025, naik hampir 60% dibanding dekade sebelumnya.

Sebagian lainnya memilih gaya hidup honjok (hidup menyendiri), bertahan dengan pekerjaan paruh waktu untuk menghindari jam kerja panjang ala korporasi.

Iklan

Jepang: Satori Sedai

Di Jepang, muncul istilah satori sedai atau generasi tercerahkan. Generasi ini melepaskan ambisi materialistis akibat stagnasi ekonomi panjang. Mereka puas dengan hal sederhana seperti kopi di minimarket, anime streaming, atau pekerjaan tetap meski membosankan, berbeda jauh dari generasi orang tua yang mengejar mobil dan barang mewah.

China: Tang Ping hingga Bai Lan

Di China, tren tang ping (lying flat) menjadi populer sejak 2021 sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya kerja 996 (09.00–21.00, 6 hari seminggu). Banyak anak muda memilih hidup santai karena merasa kerja keras tak lagi menjamin hasil.