Keempat, transformasi digital yang belum merata. Pandemi Covid-19 memang mendorong akselerasi digitalisasi pendidikan, tetapi ujian itu juga menyingkap jurang kesenjangan baru. Banyak sekolah yang tidak siap, guru yang gagap teknologi, dan peserta didik yang tidak memiliki gawai atau akses internet memadai. Di sisi lain, dunia bergerak cepat dengan kehadiran kecerdasan buatan (AI), big data, dan Internet of Things (IoT). Jika kesenjangan digital ini tidak segera dijembatani, Indonesia berisiko memiliki generasi yang tidak siap menghadapi era ekonomi digital global.

Mengapa Lama Sekolah Saja Tidak Cukup

Target pemerintah menaikkan AHS menjadi 14,8 tahun pada 2045 patut diapresiasi, sebab menunjukkan komitmen memperluas akses pendidikan. Namun, perlu dicatat bahwa lama sekolah tidak identik dengan mutu pendidikan. Menambah tahun belajar tanpa perbaikan kualitas hanya akan melahirkan lulusan dengan ijazah lebih tinggi tetapi keterampilan minim. Fenomena ini berisiko menciptakan apa yang disebut credential inflation: banyak gelar akademik, tetapi daya saing rendah.

Fakta ini dikuatkan oleh data Human Capital Index (HCI) Bank Dunia: seorang anak Indonesia yang memulai sekolah pada usia 4 tahun diperkirakan menempuh 12,4 tahun sekolah, tetapi jika disesuaikan dengan kualitas belajar, efektivitasnya hanya 7,8 tahun (World Bank, 2020). Ini menunjukkan jarak besar antara durasi sekolah dan hasil belajar.

Iklan