Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Pertama, kualitas pembelajaran yang belum optimal. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menempatkan Indonesia di papan bawah dalam literasi, numerasi, dan sains. Fakta ini menunjukkan paradoks: angka partisipasi sekolah semakin meningkat, tetapi keterampilan dasar untuk membaca pemahaman, berhitung, dan berpikir kritis masih tertinggal. Sekolah memang berhasil memperluas akses, tetapi belum berhasil memastikan proses belajar yang bermakna. Dengan kata lain, kita berisiko menghasilkan “generasi ijazah” tanpa kompetensi.
Kedua, kesenjangan antarwilayah yang mencolok. Ketimpangan kualitas pendidikan antara perkotaan dan daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) masih sangat nyata. Sementara siswa di kota-kota besar dapat menikmati sekolah dengan infrastruktur memadai, akses internet stabil, dan guru berkualitas, anak-anak di Nusa Tenggara Timur, Papua, dan pedalaman Kalimantan masih harus berjuang dengan minimnya fasilitas, keterbatasan tenaga pendidik, hingga hambatan ekonomi keluarga. Akibatnya, “Indonesia pendidikan” tidak berjalan pada satu jalur, melainkan terbelah dalam banyak kecepatan.
Ketiga, bonus demografi yang bisa menjadi anugerah atau bencana. Pada 2030–2045, Indonesia akan memiliki proporsi penduduk usia produktif terbesar dalam sejarah. Jika diberi pendidikan berkualitas dan keterampilan yang relevan, mereka dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi dan inovasi. Namun, jika dibiarkan tanpa bekal, bonus demografi justru berubah menjadi demographic disaster: ledakan pengangguran, meningkatnya ketimpangan sosial, bahkan potensi instabilitas sosial. Pendidikan adalah faktor penentu apakah bonus ini akan menjadi berkah atau bencana.



WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

