Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jika kerangka tiga dimensi SLO diterapkan, kondisi Pulau Padar menunjukkan tantangan serius di setiap lini. Dari aspek legitimasi, proyek ini dinilai bertentangan dengan visi pelestarian lingkungan yang dipegang banyak warga dan pelaku wisata. Paradigma pariwisata global pun bergerak menuju sustainable tourism, dengan wisatawan yang kian selektif terhadap destinasi yang menjaga kelestarian.
Inkonsistensi terhadap nilai konservasi berpotensi menurunkan daya tarik pasar internasional sekaligus memicu penolakan lokal. Dari sisi kredibilitas, persoalan muncul karena minimnya keterbukaan informasi. Masyarakat dan asosiasi pariwisata mengeluhkan tidak adanya sosialisasi komprehensif terkait dampak lingkungan, akses publik, maupun pembagian manfaat ekonomi.
Defisit informasi ini menimbulkan spekulasi yang memperburuk situasi. Lebih dari sekadar kuantitas, kualitas dan metode komunikasi yang masih bersifat top-down memperlebar asimetri informasi dan menghambat pembangunan kepercayaan. Sebaliknya, dialog dua arah yang memungkinkan umpan balik konstruktif justru sangat dibutuhkan.
Kepercayaan publik pun belum kokoh. Rekam jejak sejumlah proyek besar di NTT sering diwarnai janji yang tidak sepenuhnya terealisasi. Kasus larangan masuk ke beberapa area pantai di Pulau Padar — walau dibantah otoritas — memperkuat kesan bahwa akses masyarakat rentan dibatasi oleh kepentingan bisnis. Pengalaman historis juga menunjukkan adanya ketidakseimbangan kekuatan antara investor besar dan komunitas lokal, sehingga sikap skeptis masyarakat memiliki dasar empiris yang kuat.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan