Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
“Iran tidak akan menyambut kunjungan Direktur Jenderal Rafael Grossi saat ini,” tegas Araghchi.
Langkah itu diperkuat oleh RUU yang telah disahkan parlemen garis keras Iran, dan telah disetujui oleh Dewan Wali, yang pada dasarnya melarang bentuk kerja sama dengan IAEA sebagai balasan atas serangan udara AS.
Meski Presiden Iran Masoud Pezeshkian belum menandatangani RUU tersebut, pemerintah tetap berkomitmen menjalankannya.
“Tidak diragukan, kami berkewajiban menegakkan undang-undang ini. Hubungan dengan IAEA akan berubah total,” ujar Araghchi.
Nasib Uranium Iran dan Strategi Ketidakpastian
Pengakuan ini membuka pertanyaan besar: apa yang terjadi dengan sekitar 400 kg uranium yang sudah diperkaya Iran – jumlah cukup untuk membuat 10 senjata nuklir?
Belum jelas pula kondisi sentrifugal canggih milik Iran pasca serangan. Hal ini memicu spekulasi bahwa Iran tengah menjalankan strategi ketidakpastian strategis untuk memperkuat posisi diplomatiknya.
“Iran ingin semua tetap rahasia, agar bisa memainkan strategi poker diplomatik atas kerusakan dan tumpukan uranium,” ujar Sina Azodi, pakar nuklir Iran dari Universitas George Washington.
Kembali ke Meja Perundingan?
Meski Trump dan utusan khusus Timur Tengah-nya, Steve Witkoff, mengklaim Iran akan kembali berdialog, Araghchi membantah adanya kesepakatan.





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan