Teheran, RakyatNTT.ID Untuk pertama kalinya, Pemerintah Iran secara resmi mengakui tingkat kerusakan besar pada fasilitas nuklirnya setelah serangan udara Amerika Serikat yang menghantam tiga lokasi strategis: Fordow, Natanz, dan Isfahan, akhir pekan lalu.

Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara eksklusif dengan TV pemerintah Iran, seperti dikutip oleh New York Times, Jumat, 27 Juni 2025.

“Saya harus mengatakan, kerugiannya tidak sedikit, dan fasilitas kami telah rusak parah,” ungkap Araghchi.

Pengakuan ini menandai pergeseran sikap Iran, yang sebelumnya mengecilkan dampak serangan. Sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menyebut serangan itu “tidak berdampak apa-apa”, dan menyebut pernyataan Presiden AS Donald Trump soal kehancuran total sebagai “berlebihan”.

Namun kini, Araghchi menyebut bahwa Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) masih memeriksa skala kerusakan dan kehilangan aset dari tiga situs nuklir utama negara itu.

Iran Pertimbangkan Putuskan Hubungan dengan IAEA

Lebih jauh, Menlu Araghchi juga menyinggung kemungkinan menghentikan kerja sama Iran dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), yang selama ini mengawasi program nuklir Iran dalam kerangka kesepakatan internasional.