Menurutnya, demokrasi tidak harus menghapus seluruh perbedaan untuk mencapai kesepakatan. Sebaliknya, kemampuan menerima ketidaksepakatan atau dissensus menjadi bagian penting dalam menjaga ruang politik tetap terbuka bagi beragam pandangan.

Ia juga menekankan bahwa filsafat memiliki fungsi mendasar dalam membentuk cara berpikir manusia. Filsafat bukan hanya berkaitan dengan penguasaan teori, melainkan juga latihan intelektual untuk menguji asumsi, mempertajam penalaran, dan merumuskan pertanyaan yang tepat.

Filsafat Politik Tetap Relevan di Era Kecerdasan Buatan

Otto turut menyoroti relevansi studi filsafat di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Menurutnya, teknologi AI semakin memudahkan manusia memperoleh informasi dan jawaban atas berbagai pertanyaan. Namun, kemudahan tersebut tidak menghilangkan kebutuhan terhadap kemampuan berpikir kritis dan refleksi mendalam.

Ia menjelaskan bahwa filsafat melatih manusia menghadapi aporia, yakni kebuntuan atau kebingungan intelektual yang mendorong seseorang menguji kembali asumsi dan mencari pemahaman yang lebih mendasar.

“Di era Artificial Intelligence (AI), mencari jawaban atas sebuah fakta sangatlah mudah. Namun, AI tidak memiliki kemampuan untuk mengalami aporia atau kebingungan kritis yang mendorong pencarian kebenaran. Filsafat mengajarkan manusia untuk merumuskan pertanyaan yang benar serta menjalani proses berpikir secara mendalam,” tambah Otto.