Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Rudi menyoroti pentingnya public reason atau nalar publik dalam membangun demokrasi yang sehat. Menurutnya, pendidikan politik diperlukan agar masyarakat mampu menilai kebijakan dan tindakan pejabat publik secara kritis, sekaligus mencegah munculnya tirani mayoritas.
Ia juga mempertanyakan asumsi bahwa konsensus rasional selalu dapat dicapai dalam kehidupan politik. Dalam masyarakat yang memiliki kepentingan dan pandangan beragam, perbedaan pendapat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari demokrasi.
Karena itu, konflik politik semestinya dikelola melalui dialog dan persaingan gagasan yang sehat, bukan dengan meniadakan pihak yang berbeda pandangan.
“Ketika kita terjebak dalam cara berpikir individualistik, tirani mayoritas akan berlangsung atas nama legitimasi pejabat publik. Konsensus rasional yang ideal itu hampir tidak mungkin terjadi karena sifat dasar manusia adalah konfliktual. Dalam demokrasi, konflik merupakan jiwanya untuk menguji dan mengesahkan pendapat, bukan memusnahkan lawan,” jelas Rudi.
Pandangan tersebut menempatkan perbedaan pendapat sebagai ruang pengujian gagasan dan mekanisme pengawasan kekuasaan. Dengan demikian, demokrasi membutuhkan keterbukaan terhadap kritik, perlindungan terhadap kelompok minoritas, serta kemampuan mengelola perbedaan secara dewasa.
Laurensius Sayrani Kritik Bias Gender dan Minimnya Perspektif Ekologi
Sementara itu, akademisi administrasi publik Undana, Dr. Laurensius P. Sayrani, M.PA., memberikan telaah dari perspektif epistemologi dan ontologi terhadap konstruksi filsafat politik klasik Barat yang dibahas dalam buku tersebut.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan