“Kami berjuang sekuat tenaga, tapi kami tak bisa sendirian. Anak-anak ini berhak mendapatkan tempat belajar yang layak, meski sementara,” ucap Hendrikus.

Kisah SDI Tiwu Lenang dan sekolah-sekolah lain di Kecamatan Elar menjadi gambaran bagaimana pendidikan terus diperjuangkan di tengah pemulihan pascagempa Flores.

Di tengah bangunan sekolah yang rusak dan keterbatasan fasilitas, guru, orang tua, dan masyarakat memilih untuk tidak menyerah. Mereka membangun ruang belajar sederhana agar mimpi anak-anak untuk terus bersekolah tetap menyala. (*/rnc)