Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Menurutnya, keputusan memindahkan kegiatan belajar ke luar gedung merupakan langkah yang tepat karena kondisi bangunan sekolah belum memungkinkan untuk digunakan.
“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak/Ibu guru yang tetap hadir dan melayani anak-anak kami. Belajar di luar gedung memang langkah yang tepat demi keselamatan semua, apalagi gempa susulan masih terus terjadi,” ujarnya.
Para orang tua juga ikut mengambil bagian dalam pembangunan kelas darurat dengan mengumpulkan tenaga dan bahan secara swadaya.
“Kami bangun bersama, dari bambu, kayu, dan terpal yang kami sumbangkan sendiri. Sederhana saja, tapi ini bukti kami tak menyerah,” kata Hendrikus.
Terpal Masih Kurang, Sekolah di Elar Butuh Bantuan
Semangat gotong royong warga ternyata belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan ruang belajar darurat.
Terpal yang tersedia masih belum cukup untuk menutupi seluruh bagian bangunan. Dinding ruang darurat juga belum terpasang secara sempurna, sementara kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan tersendiri bagi guru dan murid.
Karena itu, Hendrikus berharap pemerintah memberikan bantuan, khususnya berupa terpal untuk melindungi siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
“Kami memohon bantuan terpal dari pemerintah. Anak-anak kami butuh tempat yang lebih terlindungi agar bisa belajar dengan tenang,” pintanya.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan