Dalam menghadapi tantangan domestik, terutama pengendalian inflasi, Bank Indonesia juga berkomitmen memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait.

Langkah tersebut diarahkan untuk menciptakan iklim sektor riil yang kondusif sekaligus memastikan kebijakan domestik tetap responsif terhadap ketidakpastian ekonomi global.

BI juga perlu mencermati tren suku bunga acuan negara-negara maju yang berpotensi bertahan pada level tinggi atau higher for longer.

Iklan

Inflasi dan Harga Energi Masih jadi Risiko

Meski rupiah ditutup menguat, ruang penguatannya dinilai masih terbatas. Pasar tetap mewaspadai potensi peningkatan inflasi umum maupun inflasi inti dalam beberapa bulan mendatang.

Sejumlah faktor yang berpotensi mendorong inflasi antara lain meningkatnya biaya input dan logistik, kenaikan kembali harga energi, serta potensi gangguan pasokan pangan akibat fenomena El Niño.

Kondisi tersebut membuat investor tetap berhati-hati dalam mengambil posisi di pasar valuta asing.

Berdasarkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya.

Meski demikian, rupiah masih berpeluang melanjutkan penguatan dan diprediksi bergerak dalam kisaran Rp17.630 hingga Rp17.680 per dolar AS.