Area Manager SIAP SIAGA NTT, Silvia Fanggidae, mengatakan validitas data menjadi salah satu tantangan utama dalam penyusunan R3P.

Data kerugian dan kerusakan, menurut dia, harus dapat dipertanggungjawabkan sebelum diterjemahkan menjadi rencana pembangunan.

“Ketika menyusun R3P maka mutlak harus ada data kerugian yang bisa dipertanggungjawabkan, valid, diverifikasi serta divalidasi,” kata Silvia.

Menurutnya, tujuan pemulihan pascabencana bukan sekadar mengganti bangunan yang hilang atau memperbaiki fasilitas yang rusak. Prinsip yang digunakan adalah build back better, yakni membangun kembali dengan kondisi yang lebih baik dan lebih aman.

Karena itu, kualitas data akan turut menentukan kualitas pemulihan yang diterima masyarakat terdampak.

Pakar Geographic Information System (GIS), M. Hendryanto, menjelaskan bahwa visualisasi geospasial mulai memperlihatkan sejumlah pola yang perlu diverifikasi.

Di Kabupaten Manggarai Timur, misalnya, terdapat sejumlah desa di bagian selatan yang menunjukkan dampak kerusakan cukup tinggi, meskipun lokasi gempa berada di wilayah utara.

“Kita belum tahu apakah ini karena pengaruh faktor geologis atau ada kesalahan input data. Dengan bantuan teknologi geospasial dan geotagging, kita bisa menganalisis secara cepat dari kantor dan melihat desa-desa mana yang memang harus menjadi prioritas intervensi,” ungkap Hendryanto.

Pemulihan Flores Tak Sekadar Membangun Kembali

R3P Gempa Flores akan mencakup lima bidang utama pemulihan, yakni permukiman, infrastruktur, sosial, ekonomi, serta sektor lain yang berkaitan dengan pemulihan.