Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Persoalan juga muncul ketika tanah masyarakat adat dan masyarakat lokal masuk dalam wilayah proyek tanpa proses konsultasi dan persetujuan yang bermakna.
Bagi WALHI NTT dan jejaring, kondisi tersebut tidak semata-mata merupakan konflik lahan, tetapi juga menyangkut hak masyarakat, demokrasi, partisipasi, penguasaan ruang dan keberlanjutan kehidupan.
Karena itu, pembangunan dinilai tidak cukup diukur dari besarnya investasi, panjang jalan yang dibangun, kapasitas listrik yang dihasilkan atau luas kawasan produksi yang dibuka.
“Ukuran pembangunan harus dilihat dari apakah masyarakat menjadi lebih aman, lingkungan tetap hidup, hak-hak masyarakat terlindungi, dan generasi mendatang masih memiliki ruang hidup yang layak.”
Transisi Energi Diminta Tidak Ciptakan Konflik Baru
WALHI NTT dan jejaring juga menyoroti agenda transisi energi dan dekarbonisasi.
Mereka berpandangan bahwa transisi energi tidak cukup hanya mengganti sumber energi, tetapi harus disertai perubahan tata kelola agar lebih demokratis, berkeadilan, rendah emisi dan tidak menciptakan konflik baru.
Pengembangan energi terbarukan, menurut mereka, harus tetap memperhatikan perlindungan masyarakat, ekosistem, wilayah adat, sumber air, lahan pertanian, pesisir dan kawasan yang memiliki nilai ekologis tinggi.





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan