Sementara pada tahap hilir, masyarakat diperkenalkan dengan pengolahan rumput laut menjadi produk pangan bernilai tambah. Materinya mencakup pemilihan bahan, pengolahan, kebersihan dan keamanan pangan, pengemasan, pelabelan, hingga strategi pemasaran.

Rumput Laut Diolah Menjadi Permen

Salah satu contoh pengolahan yang diperkenalkan adalah menjadikan rumput laut sebagai bahan baku permen.

Dalam contoh perhitungan program, penggunaan 1 kilogram rumput laut kering membutuhkan biaya produksi sekitar Rp346.000. Dari formulasi tersebut dihasilkan sekitar 50 bungkus permen dengan berat 200 gram per bungkus.

Iklan

Jika setiap bungkus dijual Rp15.000, penerimaan kotor yang diperoleh mencapai Rp750.000. Berdasarkan komponen biaya yang dihitung, terdapat selisih penerimaan dan biaya produksi sebesar Rp404.000.

Namun, angka tersebut merupakan margin kotor berdasarkan komponen biaya yang dihitung, bukan keuntungan bersih. Biaya seperti penyusutan peralatan, listrik, transportasi, distribusi, perizinan atau sertifikasi, promosi, serta biaya operasional lainnya masih perlu diperhitungkan apabila ingin menghitung keuntungan bersih secara lengkap.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa rumput laut dapat memberikan nilai ekonomi lebih besar apabila tidak langsung dijual sebagai bahan baku, melainkan diolah menjadi produk siap dipasarkan.

Nilai Tambah Bukan Hanya Soal Harga

Program tersebut menekankan bahwa nilai tambah tidak sekadar berarti menjual produk dengan harga lebih tinggi.