Namun, berdasarkan hasil survei e-PPGBM bulan Juli, prevalensi stunting di Kabupaten Sabu Raijua tercatat meningkat menjadi 25,63 persen.

Angka tersebut memang masih berada di bawah target prevalensi stunting daerah tahun 2026 sebesar 31,6 persen. Meski demikian, kenaikan tersebut dinilai harus menjadi alarm bagi pemerintah dan seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan stunting.

“Penghargaan bukanlah akhir dari perjuangan. Kita harus jujur melihat kondisi terkini. Kenaikan dari 21,95 persen menjadi 25,63 persen harus menjadi perhatian serius bagi kita semua,” ujar Thobias.

Iklan

Ia mengingatkan pemerintah agar tidak hanya mengulang program yang sama setiap tahun. Menurutnya, penyusunan kebijakan harus berdasarkan persoalan nyata yang ditemukan di lapangan.

“Perencanaan harus berangkat dari masalah dan berakhir pada solusi,” ujarnya.

Pencegahan Stunting Harus Dimulai Sebelum Anak Lahir

Wabup Thobias menekankan bahwa stunting bukan persoalan yang muncul secara tiba-tiba. Karena itu, upaya pencegahannya harus dilakukan melalui pendekatan siklus kehidupan.

Remaja putri perlu mendapatkan edukasi dan pelayanan kesehatan yang memadai. Sementara calon pengantin harus dipersiapkan agar berada dalam kondisi sehat sebelum memasuki kehidupan berkeluarga.