Mbay, RakyatNTT.ID – Di tengah situasi pascagempa bumi yang masih menyisakan trauma dan kerusakan rumah warga, masyarakat Desa Kotawuji Timur, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), menunjukkan kepedulian terhadap masa depan anak-anak mereka.

Pada Sabtu (29/8/2026), warga bersama pemerintah desa berinisiatif membangun tenda darurat untuk tempat belajar siswa di sejumlah kampung terdampak, yakni Kampung Jawawawo, Mabhapisa, Niondoa, dan Giriwawo.

Tenda darurat tersebut dibangun agar anak-anak tetap dapat mengikuti kegiatan belajar meskipun sebagian fasilitas pendidikan terdampak gempa dan banyak keluarga masih bertahan di pengungsian.

Iklan

Bagi warga yang menjadi korban gempa, pendidikan anak menjadi salah satu prioritas yang tidak ingin mereka korbankan.

“Rumah hancur kami bisa bangun lagi, Pak. Tapi pelajaran dan cita-cita anak kami jauh lebih penting,” ungkap salah satu warga Kampung Jawawawo, Marianus Reo, kepada media, Sabtu (29/8/2026).

Orang Tua Ingin Anak Kembali Bersekolah

Marianus mengatakan, bagi para orang tua yang kini berada di posko pengungsian, kembalinya anak-anak ke sekolah bukan sekadar keinginan. Pendidikan dinilai sebagai bagian penting dari proses pemulihan keluarga setelah gempa.

Menurut dia, ketika anak-anak kembali duduk untuk belajar, orang tua merasa kehidupan perlahan mulai kembali normal.

“Sekolah satu-satunya harapan hidup baru. Saat anak duduk di bangku kembali, kami merasa kehidupan perlahan bangkit kembali,” ujarnya.

Ia menegaskan, kondisi bangunan sekolah yang mengalami kerusakan bukan alasan untuk menghentikan kegiatan belajar selama masih tersedia tempat yang aman.

“Soal gedung sekolah yang retak ataupun roboh, itu nanti dulu. Mereka mau belajar di mana saja, atau di bawah naungan pohon sekalipun. Yang paling penting mereka aman untuk belajar,” katanya.

“Cukup rumah kami yang hancur, Pak. Tapi masa depan mereka jangan hancur,” lanjut Marianus.

Dua Minggu Mengungsi, Warga Masih Dihantui Trauma

Marianus mengungkapkan, hingga hari ke-14 pascagempa, masih banyak warga Desa Kotawuji Timur yang memilih bertahan di pengungsian, baik secara mandiri maupun di posko utama.

Rasa takut untuk kembali ke rumah masih dirasakan masyarakat, terutama karena banyak rumah di lima kampung terdampak mengalami kerusakan.

“Ini sudah masuk hari keempat belas, Pak, sudah tepat dua minggu. Masih banyak yang mengungsi. Masyarakat mau pulang, tapi takut. Karena rumah di lima kampung ini banyak yang rusak,” tuturnya.

Kondisi tersebut membuat warga membutuhkan dukungan bukan hanya untuk membangun kembali rumah, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar selama berada di pengungsian tetap terpenuhi.

Warga Terpencil Mengaku Masih Kekurangan Bantuan

Di sisi lain, warga mengaku distribusi bantuan ke wilayah-wilayah terpencil belum sepenuhnya merata.

Marianus mengatakan bantuan dari pemerintah dan Presiden sudah diterima warga. Namun, jumlah tersebut dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di lima kampung.

“Sejauh ini kami sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah dan Presiden. Itu kami dapat, tapi itu tidak seberapa untuk mencukupi kami di lima kampung ini,” katanya.

Warga juga bersyukur atas bantuan dari keluarga dan kerabat yang berada di luar daerah maupun luar negeri.

Menurut Marianus, dukungan tersebut turut membantu warga bertahan di tengah keterbatasan.

Namun, seorang warga lainnya yang meminta identitasnya tidak disebutkan mengaku masih menunggu bantuan lebih banyak untuk menjangkau kampung mereka.

“Kami tahu bantuan sudah datang di kota, tapi di sini seolah dilupakan. Setiap hari kami menunggu di jalan, tapi tidak ada yang datang. Yang datang itu mungkin mereka yang memang diingat,” ungkapnya.

Bertahan dari Hasil Kebun

Selama dua pekan berada dalam situasi pengungsian, sebagian warga mengandalkan hasil kebun dan ladang yang masih tersisa.

Pisang, singkong, serta berbagai jenis umbi-umbian menjadi sumber pangan yang membantu masyarakat bertahan hidup.

“Jujur, kami warga selama dua minggu ini bertahan dengan apa yang tersisa di ladang atau kebun, pisang, singkong dan umbi-umbian yang kami tanam. Itu sudah sangat membantu kami di sini,” ujarnya.

Warga berharap distribusi bantuan tidak hanya terfokus pada wilayah yang mudah dijangkau, tetapi juga menyentuh kampung-kampung terpencil yang sama-sama terdampak gempa.

“Mungkin hanya ke tempat yang mudah dijangkau untuk dapat bantuan. Kami juga korban gempa, kami juga butuh diselamatkan, Pak,” katanya.

Ia menduga kondisi jalan yang sulit menjadi salah satu kendala distribusi bantuan menuju wilayah mereka.

Tenda, Selimut hingga Perlengkapan Sekolah Mendesak Dibutuhkan

Untuk memenuhi kebutuhan pengungsi, warga berharap bantuan berupa tenda dan selimut segera dikirimkan ke kampung-kampung terdampak.

Pasalnya, masih banyak warga yang bertahan di bawah terpal sederhana maupun menggunakan sisa material rumah yang roboh, seperti seng bekas, sebagai atap darurat.

Selain kebutuhan dasar pengungsi, warga juga meminta perhatian khusus terhadap kebutuhan anak-anak.

Bantuan yang dibutuhkan antara lain susu bayi, susu untuk ibu hamil, makanan pendamping, alat tulis, serta perlengkapan sekolah.

Kebutuhan tersebut dinilai penting agar anak-anak dapat kembali belajar sekaligus mendapatkan semangat untuk bangkit setelah mengalami situasi traumatis akibat gempa.

Inisiatif warga membangun tenda darurat menjadi pesan kuat bahwa di tengah rumah-rumah yang rusak dan kehidupan yang belum sepenuhnya pulih, masyarakat Desa Kotawuji Timur tetap berusaha menjaga satu hal yang dianggap paling berharga: masa depan anak-anak mereka. (rnc15)