Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Menurut dia, ketika anak-anak kembali duduk untuk belajar, orang tua merasa kehidupan perlahan mulai kembali normal.
“Sekolah satu-satunya harapan hidup baru. Saat anak duduk di bangku kembali, kami merasa kehidupan perlahan bangkit kembali,” ujarnya.
Ia menegaskan, kondisi bangunan sekolah yang mengalami kerusakan bukan alasan untuk menghentikan kegiatan belajar selama masih tersedia tempat yang aman.
“Soal gedung sekolah yang retak ataupun roboh, itu nanti dulu. Mereka mau belajar di mana saja, atau di bawah naungan pohon sekalipun. Yang paling penting mereka aman untuk belajar,” katanya.
“Cukup rumah kami yang hancur, Pak. Tapi masa depan mereka jangan hancur,” lanjut Marianus.
Dua Minggu Mengungsi, Warga Masih Dihantui Trauma
Marianus mengungkapkan, hingga hari ke-14 pascagempa, masih banyak warga Desa Kotawuji Timur yang memilih bertahan di pengungsian, baik secara mandiri maupun di posko utama.
Rasa takut untuk kembali ke rumah masih dirasakan masyarakat, terutama karena banyak rumah di lima kampung terdampak mengalami kerusakan.
“Ini sudah masuk hari keempat belas, Pak, sudah tepat dua minggu. Masih banyak yang mengungsi. Masyarakat mau pulang, tapi takut. Karena rumah di lima kampung ini banyak yang rusak,” tuturnya.





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan