Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Ketua Tim Mental Health Project, Dr. dr. Nicholas Edwin Handoyo, M.Med.Ed., mengatakan langkah tersebut dipilih karena kurikulum akademik di setiap fakultas sudah bersifat tetap sehingga ruang integrasi paling memungkinkan dilakukan melalui kegiatan nonperkuliahan.
“Kami menyepakati bahwa pada tahap awal literasi kesehatan mental akan dimasukkan terlebih dahulu dalam PKKMB sembari menyiapkan modul pembelajaran dengan narasumber dari Layanan Psikologi Terpadu Undana di setiap fakultas,” ujarnya.
Melalui program tersebut, mahasiswa baru diharapkan mampu mengenali tanda-tanda gangguan kesehatan mental, memahami cara mencari bantuan, serta memiliki keberanian untuk berbicara sebelum kondisi berkembang menjadi lebih berat.
Peer Support Group Dibentuk di Seluruh Fakultas
Selain penyusunan kurikulum, Undana juga akan membentuk peer support group atau kelompok pendukung sebaya di setiap fakultas.
Program tahap pertama menargetkan 30 peserta Training of Trainers (ToT) yang akan memperoleh pelatihan Psychological First Aid (PFA).
Selanjutnya, masing-masing peserta ToT akan melatih 30 kader pendukung sebaya di fakultasnya. Dengan sembilan fakultas yang dimiliki Undana, target awal program mencapai 270 kader ditambah 30 peserta ToT, sehingga total terdapat 300 orang yang akan menjadi penggerak layanan dukungan psikologis di lingkungan kampus.
Empati dan Integritas jadi Syarat Utama
Dalam proses rekrutmen, Undana menetapkan empat kriteria utama bagi calon pendukung sebaya, yakni memiliki empati, mampu bekerja sama, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, serta menjunjung tinggi integritas.





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan