Dari Ruteng, Aimere, Bajawa hingga Mbay, perjalanan panjang Majelis Sinode GMIT menjadi perjalanan solidaritas kemanusiaan.

GMIT menunjukkan bahwa panggilan gereja tidak dibatasi tembok gedung, batas wilayah pelayanan, denominasi maupun latar belakang. Ketika manusia mengalami penderitaan, gereja dipanggil untuk hadir dan menjadi bagian dari proses pemulihan.

Hari kedua perjalanan Majelis Sinode GMIT akhirnya bukan sekadar catatan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Perjalanan itu menjadi kesaksian bahwa di tengah bencana, gereja memilih untuk hadir; di tengah luka, gereja memilih untuk mendekat; dan di tengah ketidakpastian, gereja memilih untuk berjalan bersama.

Iklan

GMIT hadir di tengah bencana karena gereja dipanggil menjadi tanda kasih Allah bagi dunia yang sedang terluka. (*/rnc)