Mbay, RakyatNTT.ID – Perjalanan hari kedua Majelis Sinode GMIT menuju wilayah terdampak gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 bukan sekadar perjalanan menempuh jarak.

Dari Ruteng, melewati Aimere dan Bajawa, hingga tiba di Mbay, perjalanan tersebut menjadi gambaran nyata kehadiran gereja di tengah penderitaan masyarakat.

Pesan yang dibawa rombongan sederhana namun kuat: gereja hadir, berjalan bersama, dan menguatkan mereka yang sedang menghadapi bencana.

Iklan

Evaluasi Tim Pos Terpadu Ruteng

Setelah sarapan pagi, sekitar pukul 09.00 WITA, rombongan yang terdiri dari Majelis Sinode GMIT, Tim Pos Terpadu Ruteng, serta Ketua PGI bersiap melanjutkan perjalanan dari Ruteng menuju Mbay, Kabupaten Nagekeo.

Sebelum bertolak, Tim Sinode GMIT terlebih dahulu melakukan evaluasi dan memberikan penguatan kepada Tim Pos Terpadu Ruteng.

Evaluasi tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat respons pelayanan kebencanaan, khususnya bagi masyarakat terdampak di wilayah Manggarai Tengah, Manggarai Timur, Ruteng hingga Reo.

Dalam situasi bencana, pelayanan gereja tidak hanya diwujudkan melalui distribusi bantuan. Gereja juga hadir melalui koordinasi, pendampingan, penguatan kapasitas tim, serta memastikan para pelayan dan masyarakat terdampak tidak merasa berjalan sendirian.

Menyapa Pelayan Jemaat di Aimere

Perjalanan dari Ruteng menuju Mbay membutuhkan waktu cukup panjang. Sekitar waktu makan siang, rombongan singgah di Aimere.

Persinggahan tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk beristirahat dan makan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengunjungi para pelayan jemaat.

Pertemuan singkat itu dimanfaatkan untuk saling menyapa, berbagi informasi mengenai kondisi lapangan, sekaligus memberikan penguatan agar pelayanan gereja tetap berjalan di tengah situasi bencana.

Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Bajawa.

Jagung Rebus dan Ubi, Simbol Solidaritas di Bajawa

Setibanya di Gereja Ebenhaezer Bajawa, rombongan disambut Tim Pos Terpadu Bajawa.

Sambutan sederhana tersebut kemudian berubah menjadi perjumpaan yang hangat. Di tengah perjalanan panjang, para pelayan menyediakan jagung rebus dan ubi untuk dinikmati bersama.

Makanan sederhana itu menjadi ruang untuk membangun keakraban sekaligus berdiskusi mengenai perkembangan situasi kebencanaan dan pelayanan yang sedang dilakukan.

Tim Sinode GMIT juga memberikan arahan serta penguatan kepada Tim Pos Terpadu Bajawa yang menjadi bagian penting dalam respons kemanusiaan bagi masyarakat terdampak.

Perjumpaan tersebut menunjukkan bahwa solidaritas tidak selalu harus hadir dalam bentuk besar. Solidaritas juga dapat diwujudkan melalui makanan sederhana, percakapan yang tulus, kesediaan mendengar, dan kemauan untuk duduk bersama menghadapi pergumulan.

Menembus Perjalanan Panjang Menuju Mbay

Sekitar pukul 14.00 WITA, rombongan kembali bertolak dari Bajawa menuju Mbay. Perjalanan sekitar tiga jam ditempuh dengan satu tujuan utama, yakni menjumpai secara langsung masyarakat yang terdampak bencana.

Menjelang pukul 17.00 WITA, rombongan akhirnya tiba di Jemaat Ebenhaezer Mbay.

Setelah menempuh perjalanan panjang dari Ruteng, perjumpaan di Mbay menjadi puncak perjalanan hari kedua.

Di tempat tersebut, rombongan berjumpa dengan sekitar 90 kepala keluarga korban bencana dari Pos Pelayanan Makepake.

Pertemuan itu memperlihatkan secara langsung wajah masyarakat yang sedang menghadapi dampak bencana. Di balik setiap wajah terdapat cerita tentang ketakutan, kehilangan dan ketidakpastian. Namun, di tengah situasi tersebut tetap ada harapan untuk bangkit dan kembali menata kehidupan.

Gereja Hadir di Tengah Luka

Kehadiran Majelis Sinode GMIT di tengah masyarakat terdampak bukan sekadar kunjungan. Kehadiran tersebut menjadi tanda solidaritas sekaligus pesan bahwa gereja tidak ingin berjarak dari penderitaan manusia.

Gereja datang bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga membawa telinga untuk mendengar, hati untuk merasakan dan tangan untuk menopang.

Perjalanan hari kedua ini menegaskan bahwa dalam situasi bencana, masyarakat tidak hanya membutuhkan barang dan bantuan material. Mereka juga membutuhkan kehadiran, perhatian, penguatan serta keyakinan bahwa masih ada orang-orang yang bersedia berjalan bersama mereka.

Dari Ruteng, Aimere, Bajawa hingga Mbay, perjalanan panjang Majelis Sinode GMIT menjadi perjalanan solidaritas kemanusiaan.

GMIT menunjukkan bahwa panggilan gereja tidak dibatasi tembok gedung, batas wilayah pelayanan, denominasi maupun latar belakang. Ketika manusia mengalami penderitaan, gereja dipanggil untuk hadir dan menjadi bagian dari proses pemulihan.

Hari kedua perjalanan Majelis Sinode GMIT akhirnya bukan sekadar catatan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Perjalanan itu menjadi kesaksian bahwa di tengah bencana, gereja memilih untuk hadir; di tengah luka, gereja memilih untuk mendekat; dan di tengah ketidakpastian, gereja memilih untuk berjalan bersama.

GMIT hadir di tengah bencana karena gereja dipanggil menjadi tanda kasih Allah bagi dunia yang sedang terluka. (*/rnc)