Persinggahan tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk beristirahat dan makan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengunjungi para pelayan jemaat.

Pertemuan singkat itu dimanfaatkan untuk saling menyapa, berbagi informasi mengenai kondisi lapangan, sekaligus memberikan penguatan agar pelayanan gereja tetap berjalan di tengah situasi bencana.

Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Bajawa.

Iklan

Jagung Rebus dan Ubi, Simbol Solidaritas di Bajawa

Setibanya di Gereja Ebenhaezer Bajawa, rombongan disambut Tim Pos Terpadu Bajawa.

Sambutan sederhana tersebut kemudian berubah menjadi perjumpaan yang hangat. Di tengah perjalanan panjang, para pelayan menyediakan jagung rebus dan ubi untuk dinikmati bersama.

Makanan sederhana itu menjadi ruang untuk membangun keakraban sekaligus berdiskusi mengenai perkembangan situasi kebencanaan dan pelayanan yang sedang dilakukan.

Tim Sinode GMIT juga memberikan arahan serta penguatan kepada Tim Pos Terpadu Bajawa yang menjadi bagian penting dalam respons kemanusiaan bagi masyarakat terdampak.

Perjumpaan tersebut menunjukkan bahwa solidaritas tidak selalu harus hadir dalam bentuk besar. Solidaritas juga dapat diwujudkan melalui makanan sederhana, percakapan yang tulus, kesediaan mendengar, dan kemauan untuk duduk bersama menghadapi pergumulan.

Menembus Perjalanan Panjang Menuju Mbay

Sekitar pukul 14.00 WITA, rombongan kembali bertolak dari Bajawa menuju Mbay. Perjalanan sekitar tiga jam ditempuh dengan satu tujuan utama, yakni menjumpai secara langsung masyarakat yang terdampak bencana.