Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Mbay, RakyatNTT.ID – Enam hari setelah gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026, rasa takut dan trauma masih menyelimuti warga Desa Tonggurambang, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.
Gempa susulan yang masih terasa membuat sebagian warga memilih mengungsi secara mandiri di pondok-pondok yang berada di sekitar area persawahan. Di tengah situasi tersebut, para petani kini menghadapi persoalan lain berupa kerusakan sejumlah infrastruktur pertanian.
Saluran irigasi dan jalan usaha tani mengalami kerusakan akibat gempa. Kondisi ini menghambat aktivitas pertanian sekaligus mengancam kelancaran mata pencaharian warga.
Salah satu kerusakan terjadi pada saluran air yang dibangun secara swadaya oleh kelompok tani. Saluran tersebut jebol dan roboh hingga menutup aliran air menuju areal persawahan.
Kerusakan saluran irigasi itu menjadi kendala serius bagi Kelompok Tani Sadar Tani 04, mengingat aliran air tersebut menjadi salah satu penopang utama aktivitas pertanian masyarakat.
Ketua Kelompok Sadar Tani 04 Desa Tonggurambang, Hasyim Bungo, mengatakan kerusakan saluran air membuat petani kesulitan menjalankan aktivitas bercocok tanam.
Menurutnya, areal persawahan warga di Desa Tonggurambang mencapai sekitar 136 hektare. Selama ini, kebutuhan air untuk sawah tersebut bergantung pada saluran yang kini mengalami kerusakan.





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan