“Dalam dunia akademik salah itu boleh, tetapi berbohong itu tidak boleh. Kita tidak bisa membendung lagi penggunaan AI, tetapi kita juga harus tetap menjaga integritas akademik kita,” tegas Rolland.

Pernyataan tersebut menjadi pesan utama dalam pelatihan, bahwa penggunaan teknologi bukan persoalan yang harus dihindari, melainkan perlu ditempatkan dalam koridor etika dan tanggung jawab akademik.

Tantangan Akademik Bergeser dari Plagiarisme ke Kebenaran Ilmiah

Dr. Yeheskial A. Roen dalam pemaparannya mengajak peserta melihat perubahan tantangan akademik seiring pesatnya perkembangan teknologi.

Menurutnya, persoalan integritas akademik saat ini tidak lagi sebatas bagaimana menghindari tindakan mencuri atau menjiplak karya orang lain.

Tantangan yang lebih besar adalah memastikan setiap karya ilmiah tetap menjunjung kejujuran, kebenaran dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

“Kalau dulu, fokus kita hanya sebatas tidak mencuri karya orang lain, sekarang paradigmanya bergeser pada komitmen untuk tidak merusak kebenaran ilmiah. Ukuran utamanya bukan lagi sekadar sanksi, melainkan apakah karya tersebut dihasilkan secara jujur dan dapat dipertanggungjawabkan,” jelasnya.

Undana Sudah Memiliki Aturan Etik

Untuk memperkuat pemahaman peserta, Dr. Yeheskial juga mengulas berbagai payung hukum dan regulasi yang berlaku di lingkungan Undana.