Saat gempa terjadi, Marlen sedang berada di rumah neneknya di Kelurahan Danga, Kecamatan Aesesa.

Rasa takut masih muncul ketika merasakan guncangan. Ia bahkan mengaku spontan berlari keluar ketika gempa kembali terasa.

“Kalau gempa pasti langsung lari keluar tenda, kayak masih takut begitu,” ujarnya.

Iklan

Meski pemerintah telah menyampaikan bahwa ancaman tsunami telah berakhir, Marlen mengaku masih merasa takut untuk kembali ke rumah.

Namun, kondisi psikologisnya perlahan mulai membaik setelah mendapatkan pendampingan dari berbagai lembaga yang datang ke lokasi pengungsian.

“Tapi beberapa hari ini saya rasa agak baik, karena banyak lembaga yang turun mengajak kami bermain dan pelatihan, biar trauma kami hilang,” pungkasnya.

Kehadiran tim trauma healing dari Politeknik Santo Wilhelmus Boawae dan sejumlah relawan lainnya diharapkan dapat membantu anak-anak terdampak gempa Nagekeo melewati masa sulit sekaligus kembali menjalani aktivitas dengan lebih tenang. (rnc15)