Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat pendampingan bagi anak-anak yang masih mengalami ketakutan setelah gempa.
Ermelinda mengatakan pihaknya menyiapkan beberapa tim agar kegiatan pendampingan dapat dilakukan secara berkelanjutan.
“ Kita siapkan beberapa tim, jika tim ini istirahat kita akan kirim tim baru lagi bergabung bersama DPMDP3A Kabupaten Nagekeo,” katanya.
Ia menegaskan kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari program pengabdian kepada masyarakat.
Melalui keterlibatan langsung di lokasi bencana, mahasiswa diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi kepada masyarakat, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam menghadapi dan merespons situasi kebencanaan.
Trauma Anak Korban Gempa jadi Perhatian
Ermelinda menilai persoalan trauma harus menjadi perhatian serius dalam penanganan pascabencana, terutama bagi anak-anak yang masih berada di lokasi pengungsian.
Menurutnya, anak-anak membutuhkan ruang aman untuk bermain, berinteraksi, dan mengikuti berbagai kegiatan positif agar perlahan dapat mengurangi rasa takut akibat pengalaman gempa.
Pendekatan tersebut dilakukan melalui permainan, aktivitas kelompok, serta kegiatan edukatif yang disesuaikan dengan kondisi anak-anak di pengungsian.
Pengungsi Masih Takut saat Gempa Terasa
Salah seorang pengungsi di Mbay, Marlen, mengaku pengalaman gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 masih membekas dalam ingatannya.





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan