Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Mbay, RakyatNTT.ID – Sebanyak 20 mahasiswa Politeknik Santo Wilhelmus Boawae, Kabupaten Nagekeo, bergabung dalam tim trauma healing yang dibentuk Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMDP3A) Kabupaten Nagekeo.
Tim tersebut diterjunkan untuk membantu memulihkan kondisi psikologis anak-anak yang terdampak gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Direktur Politeknik Santo Wilhelmus Boawae, Ermelinda Oko, mengatakan keterlibatan mahasiswa merupakan bentuk kepedulian kampus terhadap kondisi psikologis anak-anak yang berada di posko pengungsian.
Menurut Ermelinda, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan logistik. Kondisi psikologis anak-anak juga harus mendapat perhatian agar mereka dapat kembali bermain dan beraktivitas secara normal.
Sebelum diterjunkan ke lokasi, para mahasiswa terlebih dahulu mendapatkan pembekalan dari DPMDP3A Kabupaten Nagekeo selama dua hari, yakni pada 22-23 Agustus 2026 di Mbay.
“Saat ini para relawan sudah mulai bekerja di beberapa titik seperti Kecamatan Aesesa Selatan,” kata Ermelinda, Senin (24/8/2026).
Mahasiswa Undana Turut Bergabung
Dalam pelaksanaan trauma healing, mahasiswa Politeknik Santo Wilhelmus Boawae tidak bekerja sendiri. Mereka bergabung dengan mahasiswa kedokteran Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat pendampingan bagi anak-anak yang masih mengalami ketakutan setelah gempa.
Ermelinda mengatakan pihaknya menyiapkan beberapa tim agar kegiatan pendampingan dapat dilakukan secara berkelanjutan.
“ Kita siapkan beberapa tim, jika tim ini istirahat kita akan kirim tim baru lagi bergabung bersama DPMDP3A Kabupaten Nagekeo,” katanya.
Ia menegaskan kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari program pengabdian kepada masyarakat.
Melalui keterlibatan langsung di lokasi bencana, mahasiswa diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi kepada masyarakat, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam menghadapi dan merespons situasi kebencanaan.
Trauma Anak Korban Gempa jadi Perhatian
Ermelinda menilai persoalan trauma harus menjadi perhatian serius dalam penanganan pascabencana, terutama bagi anak-anak yang masih berada di lokasi pengungsian.
Menurutnya, anak-anak membutuhkan ruang aman untuk bermain, berinteraksi, dan mengikuti berbagai kegiatan positif agar perlahan dapat mengurangi rasa takut akibat pengalaman gempa.
Pendekatan tersebut dilakukan melalui permainan, aktivitas kelompok, serta kegiatan edukatif yang disesuaikan dengan kondisi anak-anak di pengungsian.
Pengungsi Masih Takut saat Gempa Terasa
Salah seorang pengungsi di Mbay, Marlen, mengaku pengalaman gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 masih membekas dalam ingatannya.
Saat gempa terjadi, Marlen sedang berada di rumah neneknya di Kelurahan Danga, Kecamatan Aesesa.
Rasa takut masih muncul ketika merasakan guncangan. Ia bahkan mengaku spontan berlari keluar ketika gempa kembali terasa.
“Kalau gempa pasti langsung lari keluar tenda, kayak masih takut begitu,” ujarnya.
Meski pemerintah telah menyampaikan bahwa ancaman tsunami telah berakhir, Marlen mengaku masih merasa takut untuk kembali ke rumah.
Namun, kondisi psikologisnya perlahan mulai membaik setelah mendapatkan pendampingan dari berbagai lembaga yang datang ke lokasi pengungsian.
“Tapi beberapa hari ini saya rasa agak baik, karena banyak lembaga yang turun mengajak kami bermain dan pelatihan, biar trauma kami hilang,” pungkasnya.
Kehadiran tim trauma healing dari Politeknik Santo Wilhelmus Boawae dan sejumlah relawan lainnya diharapkan dapat membantu anak-anak terdampak gempa Nagekeo melewati masa sulit sekaligus kembali menjalani aktivitas dengan lebih tenang. (rnc15)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan