“Jika dilihat dari perspektif administrasi publik, stunting sebenarnya terjadi karena masalah pada kebijakan publik, baik dari aspek policy formulation maupun policy implementation,” tegasnya.

Ia juga menilai lemahnya koordinasi antar pemangku kepentingan menjadi salah satu penyebab belum optimalnya penanganan stunting.

Penelitian Ungkap 70 Persen Penyebab Stunting Bersifat Non-Medis

Ketua Tim Peneliti Undana, Dr. Yeheskiel A. Roen, M.Si., menjelaskan bahwa penelitian tersebut mengacu pada temuan ilmiah The Lancet (2013) yang menunjukkan bahwa keberhasilan penanganan stunting justru lebih banyak ditentukan oleh faktor non-medis.

Menurutnya, sekitar 70 persen penyebab maupun solusi stunting berasal dari faktor sosial, budaya, ekonomi, lingkungan, dan pola pengasuhan.

Sementara itu, intervensi medis seperti pemberian vitamin, imunisasi, maupun makanan tambahan hanya menyumbang sekitar 30 persen terhadap keberhasilan penanganan.

Ironisnya, kebijakan penanganan stunting di Indonesia selama ini masih lebih banyak berorientasi pada aspek medis.

Untuk memperkuat temuan tersebut, tim peneliti melakukan kajian terhadap 500 artikel ilmiah selama sepuluh tahun terakhir, observasi lapangan dan wawancara di Desa Kesetnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), serta Focus Group Discussion (FGD) lintas sektor.

Lima Strategi Baru Penanganan Stunting

Berdasarkan hasil penelitian, Undana bersama The Meros Center merumuskan lima strategi utama yang dinilai lebih efektif dalam menekan angka stunting di NTT.