Jakarta, RakyatNTT.ID – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Pada penutupan perdagangan Senin (27/7/2026), rupiah melemah 46 poin atau sekitar 0,26 persen hingga menembus level Rp18.009 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pelemahan mata uang Garuda terjadi di tengah kombinasi sentimen global dan domestik. Salah satu faktor yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah pengumuman Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo yang mengajukan pengunduran diri dari jabatannya kepada Presiden Prabowo Subianto.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan tekanan terhadap rupiah berasal dari dinamika geopolitik internasional sekaligus meningkatnya ketidakpastian di dalam negeri.

Geopolitik Timur Tengah Masih Membayangi Pasar

Menurut Ibrahim, sentimen eksternal dipengaruhi oleh perkembangan konflik di Timur Tengah. Amerika Serikat menghentikan operasi pengeboman terhadap Iran setelah berlangsung selama 13 malam berturut-turut untuk membuka ruang bagi jalur diplomasi.

Keputusan tersebut mendapat respons dari Teheran yang menyatakan akan menangguhkan serangan balasan selama penghentian operasi militer oleh AS tetap berlangsung.

Meski demikian, kedua negara tetap menyatakan kesiapan untuk kembali melakukan aksi militer apabila proses diplomasi tidak menghasilkan kesepakatan.