Ia menjelaskan bahwa rasio utang pemerintah yang berada di kisaran 40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator kesehatan keuangan negara.

Menurutnya, indikator yang lebih penting adalah kemampuan pemerintah membayar pokok utang beserta bunga melalui pendapatan negara.

Dengan demikian, kualitas pengelolaan utang dan kapasitas fiskal pemerintah menjadi faktor yang lebih menentukan dibanding hanya melihat besaran rasio utang terhadap PDB.

Iklan

Rupiah Diproyeksikan Masih Berfluktuasi

Melihat berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan diwarnai volatilitas.

Ia memproyeksikan mata uang Garuda berpotensi bergerak dalam kisaran Rp18.010 hingga Rp18.060 per dolar AS, dengan kecenderungan masih berada dalam tekanan apabila sentimen global maupun domestik belum menunjukkan perbaikan.

Pelaku pasar kini akan mencermati perkembangan geopolitik Timur Tengah, keputusan suku bunga The Fed, serta kepastian arah kebijakan Bank Indonesia sebagai faktor utama yang berpotensi memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari ke depan. (*/rnc)