“Langkah itu dengan cepat dibalas. Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran akan menangguhkan serangan balasan selama jeda AS tetap berlaku, meskipun kedua pihak telah memperingatkan bahwa mereka tetap siap untuk melanjutkan aksi militer jika pembicaraan gagal,” ujar Ibrahim dalam riset hariannya.

Selain itu, laporan mengenai upaya China menghidupkan kembali pembicaraan damai antara Washington dan Teheran turut memberikan harapan bahwa konflik dapat beralih ke meja perundingan setelah beberapa pekan mengalami eskalasi.

Namun demikian, Ibrahim menilai optimisme tersebut masih dibayangi ketidakpastian karena belum ada kejelasan mengenai arah kebijakan Washington dalam jangka panjang.

Iklan

Gangguan Pengiriman Masih jadi Ancaman

Meski tensi militer mulai mereda, kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global belum sepenuhnya hilang.

Aktivitas pelayaran kapal pengangkut komoditas melalui Selat Hormuz dilaporkan menurun selama akhir pekan. Arus pelayaran di Selat Bab el-Mandeb juga melambat setelah serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi.

Gangguan distribusi tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati karena berpotensi mengganggu rantai pasok energi dunia dan memicu volatilitas harga komoditas.

Sikap The Fed Masih Menekan Mata Uang Negara Berkembang

Faktor lain yang membebani pergerakan rupiah adalah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang masih cenderung agresif.