Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Konflik tersebut kembali berpusat di kawasan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.
CENTCOM menyebut operasi militer terbaru bertujuan melemahkan kemampuan Iran yang dinilai mengancam kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Meningkatnya ketegangan ini menjadi eskalasi terburuk sejak kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata pada April 2026. Gagalnya pembicaraan damai membuat pasar semakin khawatir terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Akibatnya, aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah kondisi normal sehingga memicu kenaikan premi risiko pada harga minyak dunia.
Harga Minyak Tinggi Perkuat Dolar AS
Ibrahim menilai lonjakan harga energi juga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi di Amerika Serikat.
Meski data inflasi dan pasar tenaga kerja AS menunjukkan perlambatan ekonomi, investor kini lebih fokus pada dampak kenaikan harga minyak terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Jika inflasi kembali meningkat akibat mahalnya energi, bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi tersebut berpotensi memperkuat dolar AS karena suku bunga tinggi biasanya meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar, termasuk obligasi pemerintah Amerika.





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan