Saya beruntung pernah menyaksikan mereka semua. Tetapi saya belum pernah melihat seorang pemain seperti Lionel Andrés Messi Cuccitini.

Di akhir Piala Dunia 2026 ini, usia saya menikmati game yang seakan diciptakan oleh para dewa ini sudah tidak muda lagi. Messi pun telah berusia 39 tahun.

Ketika Messi mulai muncul sebagai bintang muda Barcelona, saya sudah menjadi wartawan olahraga di The Jakarta Post. Hampir setiap hari nama Messi muncul dalam berita yang saya edit atau saya baca.

Iklan

Tahun demi tahun berlalu tanpa terasa. Suatu hari saya tersadar: dulu saya mengikuti kisah seorang remaja yang sedang belajar menaklukkan dunia.

Kini ia telah berusia 30-an tahun. Dan itu berarti sayapun telah menjadi lebih tua. Di usia seperti ini, ada semacam rasa di hati saya yang mirip dengan ungkapan si tua Simeon dalam Injil ketika ia pertama kali menggendong bayi Yesus: “Sekarang Tuhan, biarlah hambamu ini pergi dengan damai sejahtera, sebab mataku telah melihat keselamatan yang daripada-Mu.” (Lukas 2: 29-30).

Tentu saya tidak sedang menyamakan Messi dengan Kristus. Tetapi saya memahami perasaan Simeon. Ada saat ketika seseorang merasa hidupnya telah diperkaya hanya karena diberi kesempatan menyaksikan sesuatu yang luar biasa. Begitulah perasaan saya terhadap Messi. Sudah cukup bagi saya karena pernah hidup di zamannya.