Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Pakar pendidikan Paulo Freire pernah menegaskan bahwa pendidikan adalah proses membangun kesadaran kritis manusia. Gagasan tersebut tetap relevan di tengah revolusi AI. Interaksi antara dosen dan mahasiswa tidak dapat digantikan oleh mesin karena pendidikan pada hakikatnya merupakan proses dialog antarmanusia.
Karena itu, tantangan pendidikan tinggi saat ini bukanlah melawan AI, melainkan memanfaatkannya secara bijaksana. Dosen perlu bertransformasi dari sekadar penyampai informasi menjadi fasilitator pembelajaran yang mampu membimbing mahasiswa berpikir kritis, kreatif, dan reflektif. Sementara itu, mahasiswa perlu didorong untuk menggunakan AI sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai jalan pintas yang menghilangkan proses berpikir.
Di sisi lain, perkembangan AI juga menghadirkan tantangan yang tidak bisa diabaikan. Fenomena plagiarisme berbasis AI, ketergantungan terhadap teknologi, serta menurunnya kemampuan berpikir mandiri menjadi persoalan yang mulai dirasakan di berbagai perguruan tinggi. Jika tidak diantisipasi, kemudahan teknologi justru dapat mengikis integritas akademik yang menjadi fondasi dunia pendidikan.
Dalam konteks tersebut, sila Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, mengandung pesan penting bahwa pendidikan harus menghasilkan manusia yang berintegritas, bertanggung jawab, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Keberhasilan pendidikan tidak diukur dari seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan dari kualitas manusia yang dihasilkannya.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan