Jawabannya sederhana: tidak.

AI memang mampu mengolah data dan menghasilkan informasi dengan kecepatan yang luar biasa. Namun, pendidikan tidak pernah sekadar urusan penyampaian informasi. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Di dalamnya terdapat nilai keteladanan, empati, etika, dialog, serta pembentukan karakter yang tidak dapat digantikan oleh algoritma.

Dalam perspektif Pancasila, kemajuan teknologi harus selalu ditempatkan dalam kerangka kemanusiaan. Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengingatkan bahwa setiap perkembangan ilmu pengetahuan harus tetap berorientasi pada martabat manusia. Teknologi hadir untuk membantu manusia berkembang, bukan mengambil alih peran kemanusiaan itu sendiri.

Iklan

Lembaga UNESCO dalam panduannya mengenai penggunaan generative AI di bidang pendidikan menegaskan bahwa teknologi harus digunakan secara etis, inklusif, dan berpusat pada manusia. Prinsip tersebut sejatinya selaras dengan nilai-nilai Pancasila yang sejak awal menempatkan manusia sebagai tujuan utama pembangunan.

Di Indonesia, penggunaan AI di kalangan mahasiswa berkembang sangat pesat. Berbagai survei menunjukkan mayoritas mahasiswa telah memanfaatkan AI dalam proses pembelajaran. Fenomena ini menunjukkan bahwa AI bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan telah menjadi bagian dari budaya belajar generasi digital.