Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Penelitian Prof Linda menemukan bahwa tata ruang Kios Angalai memiliki kemiripan dengan rumah tradisional etnis Sabu, yakni Amu Hawu. Tata spasial ini telah teruji secara turun-temurun dalam memfasilitasi perilaku penghuninya.
“Ketika masyarakat Sabu bermigrasi ke kota, mereka membawa pola ruang tersebut, sehingga tetap merasa ‘di rumah’ meski dalam ruang yang sangat terbatas,” jelasnya.
Teritorialitas dan Adaptasi jadi Kunci
Dalam kajian lanjutan, Prof Linda menyoroti konsep teritorialitas pada penghuni kios. Ia menegaskan bahwa teritorialitas bukan bentuk eksklusivitas, melainkan mekanisme untuk menciptakan keteraturan dan rasa aman.
Batas ruang yang jelas justru memperkuat identitas dan mendorong interaksi sosial yang sehat dengan lingkungan sekitar. Hal ini menjadi salah satu faktor keberhasilan dan keberlanjutan Kios Angalai.
Selain itu, penghuni juga menunjukkan kemampuan adaptasi tinggi terhadap keterbatasan ruang melalui berbagai penyesuaian, baik secara fisik maupun psikologis.
“Manusia tidak selalu merespons keterbatasan dengan konflik, tetapi melalui penyesuaian yang cerdas dan pragmatis,” katanya.
Kontras dengan Pruitt-Igoe
Prof Linda menegaskan bahwa Kios Angalai menjadi antitesis dari Pruitt-Igoe, kompleks perumahan modern di Amerika Serikat yang gagal karena mengabaikan aspek perilaku manusia.





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

