Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Menurutnya, bangunan gereja tidak hanya berfungsi sebagai struktur fisik, tetapi juga sebagai ruang yang membentuk perilaku kolektif umat, mulai dari cara duduk, berdoa, hingga merasakan kebersamaan dalam ibadah.
“Elemen seperti tata ruang dan ketinggian langit-langit dirancang untuk membangun atmosfer psikologis, seperti rasa khidmat dan kerendahan diri di hadapan Tuhan,” ujarnya.
Ia juga menyinggung fenomena makam di pekarangan rumah di Kota Kupang sebagai bentuk relasi antara ruang, budaya, dan makna kehidupan. Dalam hal ini, ruang tidak hanya menjadi tempat hidup, tetapi juga ruang memori dan hubungan dengan yang telah meninggal.
“Ruang bukanlah objek fisik yang mati, tetapi wadah relasi dan tempat jiwa manusia berdiam,” pungkasnya.
Melalui refleksi tersebut, Prof Linda menegaskan bahwa arsitektur masa depan harus lebih berorientasi pada manusia, dengan mengintegrasikan aspek perilaku, budaya, dan makna dalam setiap proses perancangan.
Kios Angalai: Kesederhanaan Bisa Kalahkan Arsitektur Modern
Prof. Linda juga menyoroti fenomena Kios Angalai di Kota Kupang sebagai contoh keberhasilan arsitektur berbasis perilaku manusia yang tumbuh dari kesederhanaan.
Dalam pemaparannya, Prof Linda menjelaskan bahwa arsitektur akan “hidup” ketika bertumpu pada perilaku manusia. Hal ini terlihat dari berbagai fenomena, mulai dari bangunan gereja yang membentuk ekspresi iman hingga makam di pekarangan rumah yang memelihara makna dan relasi.





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

