Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Penelitian kontemporer bahkan menunjukkan bahwa konfigurasi ruang, aksesibilitas, hingga kualitas lingkungan memiliki dampak langsung terhadap interaksi sosial dan kesejahteraan manusia.
Dengan demikian, hubungan antara manusia dan ruang bersifat timbal balik. Manusia merancang ruang, sementara ruang turut membentuk perilaku manusia melalui pengalaman yang diciptakan.
“Arsitektur yang berhasil bukan hanya yang indah secara visual, tetapi yang mampu memfasilitasi perilaku manusia secara tepat,” ungkap alumni SMAN 1 Kupang ini.
Untuk memperkuat pandangannya, Prof Linda juga menyinggung dua fenomena arsitektur sebagai pembelajaran, yakni Pruitt–Igoe yang dianggap sebagai kegagalan desain, serta Kios Angalai yang menunjukkan keberhasilan melalui kesederhanaan.
Melalui perspektif tersebut, ia menegaskan bahwa masa depan arsitektur harus semakin berorientasi pada manusia, dengan mengintegrasikan aspek perilaku, budaya, dan pengalaman dalam setiap proses perancangan.
Pruitt-Igoe, Simbol Gagalnya Arsitektur yang Abaikan Perilaku Manusia
Prof. Linda Fanggidae juga menyoroti kompleks perumahan Pruitt-Igoe di St. Louis, Amerika Serikat, sebagai contoh klasik kegagalan arsitektur modern yang mengabaikan dimensi perilaku manusia.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

